demokrasi

October 14th, 2008 by gunawanwibisobo

demokrasi adalah sebuah bentuk organisasi sosial dan politik yang haram jadah. Orang banyak diciptakan untuk dipimpin, dan bukan untuk memimpin, dan akhirnya diciptakan untuk jadi budak, dan bukan jadi tuan …

Akhir

May 22nd, 2008 by gunawanwibisobo

…kegagalan kita untuk memaafkan, kesediaan kita untuk mengakui dendam,
adalah penerimaan tentang batas. Setelah itu adalah doa, pada akhirnya
kita akan tahu bahwa kita bukan hakim yang terakhir. Kematian dengan
demikian diberi tafsiran bukan sebagai lawan dari kehidupan, melainkan
kelanjutannya. Di ujung sana Tuhan lebih tahu…

Work – Friendship

March 19th, 2007 by gunawanwibisobo

Bagaimanakah seseorang menghadapi masalah?

Lebih tepatnya, bagaimana seseorang menghadapi pembuat masalah?

Saya yakin tidak ada aturan ideal untuk ini.

Baru-baru
ini seseorang yang saya kenal membuat masalah. Cukup seru. Orang ini
dengan lihainya dapat membuat orang-orang disekitarnya membuat
kelompok-kelompok. Kalau satu kelompok kontra, maka yang lain akan pro.
Dan hebatnya, yang tadinya kontra bisa menjadi pro.

Saya benar-benar heran akan kemampuan persuasive seperti itu. Kagum, lebih tepatnya.

Tapi
lebih baik si-pembuat-masalah kita kesampingkan sekarang. Karena saya
sudah eneg membahasnya dan kemungkinan besar tulisan saya akan
memancing kericuhan kecil di sekitar saya.

Mari kita bahas orang-orang disekitarnya. Baik yang pro maupun yang kontra.

Satu
hal yang bisa langsung saya pelajari disini, kebanyakan orang memandang
masalah secara bias. Pihak-memihak mustahil ditentukan pemikiran logis.
Terkadang pendekatan personal dapat membuat semua orang yang kontra
sontak menjadi pro. Pendekatan personal itu misalnya menjelaskan
mengapa dia membuat masalah tersebut (baik kenyataan maupun fiktif).
Dan tentu saja yang paling terkenal, for-the-sake-of-friendship.

Masalah tetap masalah. Persetan dengan persahabatan…

Jangan
salah sangka. Saya bukannya orang yang tidak menghargai persahabatan.
Tapi kadang-kadang ada teritori yang tidak bisa dicampur dengan
teritori persahabatan. Teritori persahabatan itu private.

Bukankah
dengan menggunakan persahabatan sebagai defense mechanism itu taktik
yang sangat licik? Apakah atas nama persahabatan masalah yang terjadi
akan segera selesai? Apakah kekacauan yang dibuatnya tiba-tiba secara
ajaib akan rapi seketika? Apakah semua kesalahannya akan lenyap
tiba-tiba seperti tidak pernah terjadi? Tentu saja tidak. Itu hanya
tindakan orang pengecut.

Saya bicara tentang tanggung jawab.
Ketika seseorang membuat kekacauan, maka konsekuensi logisnya adalah
dia seharusnya merapikan kekacauan yang dibuatnya sendiri.

Ketika
orang tersebut lari dari tanggungjawabnya, tentu saja orang sekitarnya
akan bereaksi. Secara logis seharusnya reaksi yang muncul adalah
kontra. Namun ketika area persahabatan masuk ke dalam masalah, maka
yang terjadi adalah sebaliknya.

Lebih parahnya lagi ketika
pembuat masalah tersebut menggunakan kelemahannya sendiri sebagai
perisai. Dengan kelemahannya dia berhasil meluluhkan hati orang lain.
Saya tidak tahu hati mereka benar-benar luluh atau pura-pura luluh
supaya disebut berhati nurani atau bermoral baik (tidak seperti saya).

Yang
sangat saya sesalkan adalah ketidakmampuan banyak orang untuk melihat
masalah secara logis dengan menggunakan nalar. Sehingga ketika si
pembuat masalah bikin onar, maka masalah tersebut dicampur-aduk-kan
dengan hal-hal lain. Like and dislike misalnya.

Ketika ‘dislike’
berperan maka orang cenderung melihat masalah dengan lebih objektif.
Apakah ini berarti orang yang bekerjasama seharusnya tidak menyukai
satu sama lain?

Who knows…

Dari pemikiran ini saya berpikir tentang pentingnya sebuah persahabatan.

Sahabat
saya pernah mencoba suatu tes terhadap saya. Tes psikologi. Salah satu
hasilnya mengatakan kalau penempatan diri saya di lingkunan sosial
sangat baik. Tapi saya mempunyai hambatan dalam berelasi intim dengan
orang lain. Bahasa lebih umumnya adalah saya tidak gampang menjalin
relasi sahabat dengan orang lain karena ada hambatan. Entah itu dari
diri saya sendiri atau dari lingkungan saya.

Saya sudah tahu itu.

Dengan
gamblang saya mengatakan hal tersebut kepada sahabat saya. tentu saja
saya menghambat diri saya sendiri untuk menjalin relasi sebagai sahabat
dengan orang lain. Karena pada hakekatnya, saya berpikir dua orang
sahabat adalah orang yang mempunyai dasar prinsip yang sama. Dan yang
paling crucial adalah saling menghormati. Apa yang harus dihormati ?
Tentu saja banyak hal. Area pribadi, filosofi hidup dan masih banyak
yang lain.

Dari dasar saling menghormati tersebut saya bersikap
sangat memilih untuk masalah sahabat. Ketika sesorang tidak mampu
menerima saya dengan segala pemikiran saya maka lebih baik dia pergi
jauh-jauh dari hadapan saya. Karena dasar saling menghormati yang saya
bicarakan pada pargraf sebelumnya tidak eksis.

Beranjak dari
pemikiran tersebut maka saya sangat membenci orang yang menggunakan
persahabatan sebagai defense mechanism. Karena menurut saya dia sudah
menginjak-nginjak rasa saling menghormati tersebut. Karena dia
menggunakan persahabatan itu sebagai alat demi tujuannya. Karena dia
menggunakan sahabatnya sendiri demi tujuannya. Karena dengan demilkian
dia mengganggu kepentingan orang lain dengan kepentingannya. Karena dia
telah merugikan orang lain.

Kepentingan atas persahabatan
menurut saya adalah kebutuhan kita akan afeksi. Sama sekali tidak ada
sangkut pautnya dengan hal lain. Maka ketika afeksi tersebut
disalahgunakan demi tujuan apapun (sadar atau tidak sadar) maka menurut
saya persahabatan itu sendiri sudah berakhir saat itu juga.

Saya
menjadi sedikit ragu untuk bekerja dengan sahabat-sahabat saya. Karena
saya takut saya akan mencemari persahabatan yang telah saya bangun
dengan susah payah.

Semoga ketika saya bekerja dengan sahabat,
saya dapat tetap menjaga nilai persahabatan saya dengannya. Hal ini
saya lakukan karena saya menghormati pemikiran yang telah saya buat
sendiri dan menurut saya inilah yang saya percayai sebagai kebenaran
yang harus dilakukan.

Tapi kini motivasi saya bertambah.

Jangan sampai saya jadi seperti si pembuat masalah yang saya ceritakan diatas.

Idih…amit-amit…

Jangan sampe….(knock knock knock)

Teka - Teki

February 8th, 2007 by gunawanwibisobo

…..  di setiap masa nampaknya aku selalu ada saat yang tak mudah untuk berbicara, tapi tidak gampang untuk diam. Kita tidak tahu pasti bagaimana persisnya kata-kata akan diberi harga, dan apakah sebuah isyarat akan sampai. Di luar pintu, pada saat seperti ini, hanya ada mendung, atau hujan., atau kebisuan, mungkin ketidakacuhan. Semuanya teka-teki ………

INSOMNIA !!

December 14th, 2006 by gunawanwibisobo

I just want to close my eyes dan mute all voices in my head. I need to SLEEP. Please. Make me

Highlights: Blogwalking, Wine, Cinta sampai Seks

October 19th, 2006 by gunawanwibisobo

Karena blogwalking tadi, saya tergoda untuk mulai menulis lagi. memang akhir-akhir ini saya lagi mengidap writers block yang sangat parah. Kalau sudah berada di depan monitor, otak blank. Saya merasa semua hal di dunia ini sudah pernah saya tulis.

Blogwalking tadi membuat saya menghasilkan suatu kesimpulan. Orang-orang masih tergila-gila akan cinta. Semua blog menuliskan degradasi bernama cinta itu. Hah….

Bukannya mau ikut-ikutan, tapi belakangan ini saya menemui literatur-literatur menarik tentang something-silly-called-love.

Kalau saya mendeskripsikan arti cinta disini, saya akan sama seperti orang lain yang hendak menstrukturkan yang tak terstruktur. Maka, mari kita bicarakan sense nya saja.

Sebuah literatur yang saya baca (yang tentu saja saya lupa penulis maupun judulnya) mengatakan, sebetulnya sense akan cinta yang kita kenal sekarang ini adalah hasil dari perbuatan orang-orang barat yang kaya di jaman dahulu. Dimana orang masih hidup susah, mereka dapat duduk di kafe dengan wine, atau makan malam di restoran terbaik bersama lawan jenis mereka dan merasakan suatu perasaan yang dikenal sebagai cinta. Sebetulnya ini bukan cinta. Tapi asmara. Perbedaannya terletak pada nafsu seks nya.

Asmara disini saya terjemahkan sebagai segala perasaan yang mendorong kita untuk melakukan hal-hal untuk semata-mata dapat berhubungan seks.

Pada zaman sebelumnya tidak ada dikenal asmara. Atau lebih tepatnya, orang membedakan asmara dengan cinta. Orang menikah karena memang seharusnya demikian. Karena masyarakat telah membentuk struktur bahwa satu-satunya cara untuk meneruskan keturunan (berhubungan seks) hanya dengan menikah. Maka setelah menikah cinta akan muncul. Mungkin cinta itu timbul dari kebiasaan. Cinta disini bukan asmara. Lebih kepada perhatian dan afeksi. Tanpa unsur seksual sama sekali.

Kalau seksual lain lagi. seksual itu murni hewani. Murni dorongan. Murni insting. Tujuannya apa? Yah tentu saja meneruskan keturunan.

Budaya timur lebih mengerti perbedaan cinta dan seks. Seperti yang saya tulis di artikel sebelum ini (Cinta (-) Senggama), di dunia timur tidak mengenal istilah “making love”. Kita hanya mengenal senggama. Karena bagi budaya kita jelas-jelas cinta dan seks memang tak bisa disatukan. Bagi kita sebetulnya tidak ada istilah “membuat cinta”. Karena budaya kita memisahkan seks dengan cinta. Bahkan lebih ekstrim lagi. cinta itu sama sekali berbeda dengan asmara. Atau dengan kata lain. Seks tidak bisa membuat cinta.

Dalam perkembangannya, cinta malah dihubungkan (atau disamakan) dengan asmara (seks). Mengapa? Karena masyarakat menganggap seks itu degradasi. Itu nafsu hewan. Kotor. Jorok. Mungkin karena itu semua biarawan dan biarawati tidak berhubungan seksual.

Namun namanya sudah naluri, seks tetap eksis. Manusia membuat cara untuk membuat seks muncul ke permukaan dengan cara yang lebih sopan dan lebih suci. Dengan mendompleng nama cinta.

Brainwashing yang dilakukan berabad-abad telah berhasil melebur cinta dan seks. Sehingga kita sering tidak menyadari, sebenarnya kita tidak merasakan cinta. Kita membentuk hubungan dengan pasangan kita murni berdasarkan insting seksual. Insting membuat keturunan.

Sehingga banyak orang merasa cintanya lenyap seiring dengan penurunan minat seksual terhadap pasangannya. Karena menurutnya cinta dan seks itu adalah hal yang sama, atu setidaknya sejalan.

Salah seorang sahabat saya pernah menuliskan di blog-nya, kalau tujuan manusia itu hanya ada dua. Survive dan meneruskan keturunannya. Hubungan seks adalah satu-satunya cara untuk meneruskan keturunan.

Kalau menganggap pernyataan ini benar, maka konsep cinta bercampur dengan asmara itu adalah hal yang konyol. Karena seolah-olah manusia membodohi diri, menipu dirinya sendiri kalau dorongan asal hubungan manusia dengan pasangannya itu murni seksual. Manusia seolah-olah mengingkari keberadaannya sendiri kalau dia mengatakan seks itu sama dengan cinta.

Banyak laki-laki yang lebih jujur akan keberadaan asal manusia ini. Tidak percaya? Bagi anda yang perempuan (atau yang laki-laki, kalau boleh), coba perhatikan pasangan laki-laki anda. Apakah dia tertidur setelah berhubungan seks? Kalau iya, jangan heran. Karena memang itu tujuan hidup manusia. Setelah capek-capek memperjuangkan sesuatu, tentu saja beristirahat satu-satunya cara untuk menyelesaikan kemenangan bernama orgasme.

Kalau anda tidak setuju bahwa seks merupakan salah satu tujuan manusia, maka anda harus melihat betapa banyaknya orang yang menganggap seks sebagai salah satu pencapaian.

Orang-orang yang menganggap cinta dan seks itu adalah hal yang sama, seringkali menganggap orang-orang single sebagai orang yang patut dikasihani. Kenapa? Karena menurut dia, jika dia punya pacar, maka kesempatannya untuk meneruskan keturunannya (berhubungan seks) semakin besar. Maka pencapaian bernama seks lebih mudah didapat daripada orang single.

Maka dengan motivasi ini dia akan mengasihani orang single. Memandang orang single sebagai orang gagal. Karena menurutnya tanpa pacar, maka kesempatannya berhubungan seks tidak ada. Kesempatannya mencapai tujuan hidupnya tidak ada. Hanya saja banyak orang tidak menyadari motivasi tersebut dan salah menerjemahkannya sebagai bentuk perhatian kepada sesama temannya yang kebetulan single.

Saya mau berbagi pengalaman. Saya yang sampai sekarang betah menjomblo seringkali ditanya orang.

“Udah punya pacar belon lu?

“Wah, belum…..”

(Dengan mata mengasihani a. k. a perhatian) “ Ooooo…. hayo dong cari! Mau sampe kapan jomblo terus….“

Maka saya hanya bisa tersenyum.

Apa lagi yang bisa saya perbuat?

Stuck

September 16th, 2006 by gunawanwibisobo

Ghee! im stuck….

Highlights: Ilmu Klenik sampai Chaos-Order

August 26th, 2006 by gunawanwibisobo

Saya selalu tertarik dengan Indonesia beserta segala takhyul-takhyul nya. Saya ingat sekali bagaimana orangtua saya mengajarkan jangan kelayapan sesudah maghrib karena banyak setan berkeliaran. Terus, segala cerita-cerita mulai dari ande-ande lumut, sampe wewe gombel.

Sewaktu acara alam gaib dan segala teman-temannya masih berjaya di bumi pertelevisian kita. Saya suka sekali menontonnya. Biar orang-orang berpendapat acara itu tak berguna sama sekali, menurut saya tak ada salahnya menggunakan sedikit tawa. Ya, acara seperti itu menurut saya lucu. Bukan menakutkan.

Lalu cerita tentang orang-orang sakti dengan segala ilmu klenik-nya. Ajaib! Bukannya saya musyrik, tapi dibalik semua itu saya yakin seratus persen ada penjelasan yang sangat teramat logis.

Suatu hari sahabat saya bercerita tentang temannya yang sedang tergila-gila ilmu klenik (karena dia bosan dengan segala ajaran spritual barat) memberitahunya kalau ada pesantren di pulau Jawa (bagian mana saya lupa) yang bisa membuat orang berbicara dalam berbagai bahasa. Jadi alkisah si orang pintar berkata, “Saya tidak melakukan apa-apa. Sebetulnya kemampuan itu sudah ada dalam orang tersebut. Saya hanya membuka aura-nya.” Saya langsung antusias. Siapa tahu dia bisa membuka aura agar saya bisa bermain piano tanpa harus les!

Kontan kami berencana untuk mendatangi si orang pintar dan minta dibuka aura. Kami ingin bisa bahasa Ingris (tentu saja), Prancis, Italia, Mandarin, Rusia, Jerman dan Belanda. Menurut teman sahabat saya, untuk satu bahsasa, biayanya satu juta rupiah. Tapi karena kami cukup concern dengan harga (baca: pelit) kami berniat nego. Lima juta untuk tujuh bahasa. Hehhehe. Tentu saja ini hanya angan-angan. Saya sama sekali tidak percaya dengan hal yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Dan saya tidak mau melakukan hal yang tidak saya percayai.

Saya pribadi tidak percaya kalau sebenarnya kemampuan itu ada dalam diri kita semua. Well, mungkin saja. Tapi sebelum ada bukti (at least sampai National Geographic membahasnya), saya tidak bisa percaya.

Sama tidak percayanya dengan ilmu klenik ini, saya juga sama sekali tidak percaya dengan bakat.

Saya aktif di paduan suara. Seorang teman saya disitu bagus sekali suaranya. Semua orang memuji suaranya. Saya akui (walaupun dengan sedikit rasa sirik) suaranya memang bagus. Bakat? The hell. Saya rasa dia hanya cukup beruntung mempunyai badan besar (kebanyakan penyanyi klasik badanya bukan main besarnya). Mungkin ini berpengaruh pada resonansi suara, atau apalah. Pokoknya saya berusaha mencari excuse selain bakat.

Kalau minat, lain hal. Mungkin minat mendorong seseorang untuk mendalami suatu hal sehingga dia menjadi ahli. Saya mengambil kesimpulan. Kata kuncinya adalah ‘mendalami’.

Proses! Usaha! Ini lebih masuk akal.

Sama tidak setujunya dengan bakat, saya juga sangat tidak setuju dengan konsep manusia super semacam superman (bukan manusia-super nya Nietzsche). Bisa terbang, matanya mengeluarkan laser. Saya tahu ini hanya rekaan. Tapi sosok seperti ini hanya mengajarkan pembacanya mengenai ke-super-an nya tanpa memikirkan penyebabnya ke-super-an itu sendiri. Lebih mengutamakan tujuan daripada proses.

Buku Paulo Coelho, “The Alchemist” menurut saya menggambarkan dengan sangat jelas betapa berharganya sebuah proses. Cerita buku ini bermula di suatu pohon sikamor di Argentina (atau Spanyol? Entahlah. Saya lupa.) lalu tokoh utamanya mencari harta karun. Dia mengikuti petunjuk sampai ke Mesir, hanya untuk mengetahui harta yang dicarinya berada di bawah pohon sikamor di Argentina itu. Diceritakan tokoh utamanya menemukan banyak pelajaran berharga dari petualangan itu. Mendapat wisdom yang luar biasa dari banyak orang terutama dari sang alkemis yang dijumpainya (yang bisa mengubah besi apapun menjadi emas).

Apakah saya mengatakan tujuan tidak sepenting proses? Tentu saja tidak. Saya tergila-gila dengan tujuan. Apalagi jika saya mengerjakan sebuah project. Tujuan harus jelas, dapat diukur dan menjadi motivasi. Hanya saja, jika tujuan sudah tercapai, maka menurut saya kita berada dalam situasi teratur. Order. Comfort zone. Stabil dan stagnan. Buruk-kah itu? Saya tidak berani menjawab. Tapi saya berani memastikan hal tersebut pasti membosankan.

Siapa sih yang senang dengan masalah? Tentu saja tidak ada. Tapi masalah harus selalu ada. Kenapa? Menurut teori saya, karena kita sendiri yang mencarinya. Kita tidak suka berada dalam comfort zone yang membosankan. Lalu kita berusaha menggoyang comfort zone kita sendiri dengan masalah baru. Namun ketika masalah baru tersebut berhasil kita buat, maka kita akan kembali mencari comfort zone. Cycle nya seperti itu. Chaos-order (oh tuhan…kenapa saya mulai berbicara seperti Dewi Lestari?!)

Lalu apa gunanya? Tentu saja banyak sekali. Karena comfort zone yang sekarang tentu saja lebih baik keadaannya daripada comfort zone yang sebelumnya. Kalau dulu anda hanya cukup makan, setelah menemukan masalah dan memecahkannya, sekarang anda bisa punya rumah. Lebih baik, kan?

Saya betul-betul tidak percaya dengan bakat dan superman karena hal diatas. Saya tidak percaya adanya suatu pencapaian tanpa usaha. Karena konsep bakat, seolah-olah seseorang diizinkan tidak melewati proses yang sama kerasnya dengan orang lain. Bullshit.

Pencapaian itu hanya bisa dicapai dengan proses keras bernama masalah.

Karena itu kita tak mungkin tidak menyukai masalah. Kita semua cinta masalah. Hanya demi sebuah pencapaian bernama comfort zone.

Pengen Makan Badak

August 23rd, 2006 by gunawanwibisobo

Kemaren lusa saya menyaksikan pemutaran ulang Ada Apa dengan Cinta di Trans TV. Apa saya tidak punya hal lain yang lebih baik untuk dikerjakan? Saya jujur mengakui, tidak ada sama sekali.

Saya heran kenapa film ini bisa begitu happening-nya di masa lalu. Karena setelah menontonnya untuk kedua kalinya, hanya satu hal yang bisa saya simpulkan. Film ini kampungan sekali. Pria nerd yang kebetulan suka dengan puisi, lalu mendapatkan pacar seorang perempuan populer di sekolah. Klasik. Standar. Apalagi kata-kata yang diucapkan pemainnya!

Trus, kalo lu ga punya temen, itu salah gue? Salah temen-temen gue?

Halah…

Melihat sisi logisnya, ini film betul-betul menjual impian kosong. Lihat saja si Rangga. Kutu buku, kaku, tidak punya teman, tapi apa yang terjadi? Ternyata beliau diperankan oleh that preety-dumb-boy Nicholas Syahputra. Come on, darling…dunia tidak seramah itu.

Hari ini juga saya menonton film Indonesia di RCTI yang saya lupa judulnya. Film ini bodoh sekali sampai-sampai saya merasa menghabiskan masa muda saya secara sia-sia karena menontonnya!

Apa garis merahnya? Dua film ini sama-sama tidak masuk akal dan menjual impian kosong yang probabilitas kejadiannya 0,0000001 persen.

Kalau anda sempat menonton televisi saat ini, mungkin anda menyadari dunia entertainment kita bisa jadi berada dalam jurang keterpurukan yang sangat dalam. Apalagi yang saya bicarakan selain sinetron dan infotainment sialan itu. Bukannya mau mendukung NU, tapi infotainment itu benar-benar tidak ada gunanya. Apa sih gunanya mengetahui permasalahn hidup orang yang saya kenalpun tidak? Sinetron apalagi. Setting rumah bergaya baroque gagal, lalu pemain-pemain yang tidak masuk akal jahatnya, dan tidak masuk akal baiknya dan tidak masuk akal sempurnanya.

Sinetron semacam ‘Hidayah’ dan ‘Taubat’ juga sama tidak masuk akalnya. Okelah rumah mereka tidak layak huni. Okelah semua mereka miskin. Okelah sinetron ini berbasis kejadian nyata dan berbau agama. Tapi tetap saja. Tokohnya tidak masuk akal jahatnya dan tidak masuk akal baiknya (kalau boleh saya tambahkan, tidak masuk akal bodohnya). Lalu apa yang terjadi? Si baik tanpa melakukan apa-apa selain menangis dan shalat, tiba-tiba dibalaskan dendamnya kepada si jahat oleh entah siapa saya pun tidak tahu. Orang jahatnya lalu mati dengan kudis mengerikan dan lidah menjulur tak terkira! Kembali saya katakan, come on darling, dunia tidak seramah itu.

Paling menyedihkannya, jenis hiburan semacam ini bukan main larisnya. Kenapa? Saya sudah bosan membahas masalah kebodohan bangsa ini. Mari kita bahas yang lain.

Pram pernah membahas, katanya hal ini terjadi karena rejim Soeharto melakukan pembodohan luar biasa dengan hiburan sebagai pilarnya. Yang penting rakyat senang, maka mereka tidak akan protes. Kalau boleh saya tambahkan, mungkin hal ini yang menyebabkan masyarakat indonesia kurang apresiatif terhadap seni yang lebih “serius”.

Sastra, misalnya. Bahkan karya sastra kita lebih dihargai di negri orang lain daripada kita sendiri. Apalagi? Musik? Begitu banyaknya institusi musik klasik di Indonesia yang namanya disembah-sembah di ajang internasional. Tapi di indonesia? Konser musik klasik semurah apapun tiketnya, pasti tidak pernah booming. Mencari sponsor ibaratnya seperti mencari suami idaman.

Kenapa? Simple, karena tidak menghibur.

Sudahlah, saya tidak berminat terhadap politik. Mari kita lihat kemungkinan lain.

Mungkin masyarakat kita sudah terbiasa berada dalam realita keterpurukan mulai dari kemiskinan sampai kebodohan. Kita jenuh dengan realita seperti ini. Kita sudah bosan menjadi orang miskin dan bodoh. Realita kita tidak menyenangkan. Tapi karena kita terlalu bodoh untuk mengubah realita kita sendiri, maka kita mencari-cari sesuatu yang tidak real.

Maka saya tidak heran kenapa dunia hiburan seperti ini laris manis seperti pisang goreng pontianak. Tipe hiburan seperti ini memang seperti gula pada kopi pahit, atau madu pada jamu. Betul-betul mengisi kebutuhan angan-angan kita.

Lalu ada yang salah dengan itu? Saya tidak tahu dengan anda, tapi kalau saya pribadi jelas-jelas melihat ini sebuah kekeliruan besar. Karena tanpa budaya apresiasi, maka kita semua akan tertutup akan perubahan. Tertutup akan ide-ide baru. Maka tanpa perubahan, realitas hidup yang penuh dengan kemiskinan dan kebodohan ini tidak bisa diubah. Maka kita akan tetap miskin dan bodoh.

Mungkin anda bertanya apa solusinya. Saya sendiri tidak tahu. Mungkin mengubah budaya seperti ini sama sulitnya seperti jika saya ingin memakan badak afrika seorang diri.

Kembali ke Nicholas Syahputra. Apakah ada laki-laki yang suka puisi, nerd abis, tapi punya attitude super-cool dan kebetulan bertampang manis-manja?

Dunia tidak seramah itu, teman.

Cinta (-) Senggama

May 7th, 2006 by gunawanwibisobo

I’ve been wondering. Mengapa jatuh cinta disebut “jatuh” dan “cinta”. Mungkin terlalu absurd untuk dibicarakan. Mari kita bicarakan yang lebih menarik dan lebih nyata. Sex.

Setelah saya teliti, ternyata ada perbedaan gramatikal tentang “hubungan sex” pada bahasa Inggris dan bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris ”berhubungan sex” juga sering disebut “making love”. Untunglah orang indonesia tidak ikut-ikutan menerjemahkannya menjadi “membuat cinta”.

Bahasa Inggris membuat banyak sinonim untuk “hubungan seks”. Dan semuanya menciptakan suasana tersendiri. “Having sex”; “making love”; “fu*king”, wahtever. Namun kenapa? Kalau melihat kata “making” sebelum kata “love” maka kita akan melihat kalau ternyata menurut pemikiran mereka, “sex” itu “membuat cinta”. Tetapi kita di Indonesia lebih teknikal dan menyebutnya hanya sebatas “senggama”. Kita tidak pernah meromantisasinya dengan sebutan “membuat cinta”. Senggama. Titik. Kalau adapun padanan katanya mungkin itu hanya sebatas “hubungan seks”; “n*****t”, dan saya tidak bisa mengingat yang lainnya. Semuanya teknikal. Semuanya tanpa embel-embel. Diartikan sebagai “berhubungan seks”. Makna dari hubungan seks tersebut? Tidak dijabarkan dalam kata “bersenggama”.

Apakah seks itu membuat cinta? Saya tidak pernah tahu. Pertanyaan paling dasarnya adalah, apakah cinta bisa dibuat? Itu dengan jelas saya katakan tidak.

Maka kembali ke pertanyaan pada paragraf pertama. Mengapa kata “cinta” didahului kata “jatuh” pada awalnya? Bahkan kedua bahasa yang kita bicarakan pun setuju menggunakan term “jatuh”. “Jatuh cinta” – “fall in love” (penggunaan kata “in” mungkin lain kali dapat dibicarakan). Mungkin karena memang cinta tidak bisa dibuat dan orang merasakannya seperti ketidaksengajaan (alangkah bodohnya ada orang yang jatuh karena sengaja). Ups! Saya jatuh!

Tapi kenapa ya orang tidak mengatakan “Ups saya jatuh cinta” seperti selayaknya itu ketidaksengajaan? Saya ada teori yang tidak begitu meyakinkan. Kemungkinan besar dia mengkondisikan dirinya seolah-olah jatuh cinta (padahal tidak). Ketidaksengajaan yang disengaja? Jatuh dibuat-buat? Ini sama konyolnya dengan komedi slapstick (not to mention its sooooo last CENTURY!).

Yang paling menherankan, kata “jatuh” sebelum kata “cinta” menjamin kalau cinta itu pasti menyakitkan. Karena “jatuh” bernuansa kesakitan. Jatuh dari pohon akan sakit karena luka, jatuh jabatan juga pasti sakit hati dan malu setengah mati. Oh my god…perkataan saya sudah mulai mirip dengan lirik lagu dangdut “Percuma saja bercintaaaa kalau kau takut sengsaraaaa”

Lalu kenapa orang melakukannya berkali-kali? Namun kalau dianalogikan dengan kata jatuh yang bernuansa ketidaksengajaan, tidak heran kenapa orang berkali-kali merasakannya.

Selain itu kata jatuh juga bernuansa degradasi. “Jatuh” pasti ke “bawah”. Secara makna, tentu saja di “atas” lebih baik daripada di “bawah”.

Sehingga cinta bisa jadi adalah jurang dalam yang berbentuk perangkap, dingin, gelap dimana orang bisa jatuh karena ketidaksengajaan dan walaupun orang berhasil memanjat dinding-dinding itu dan sampai ke luar, maka dikemudian hari dia kemungkinan akan kembali jatuh ke jurang perangkap yang sama. Setelah berkali-kali jatuh dan kesakitan, sangat tidak masuk akal kenapa orang tetap jatuh ke perangkap yang sama. Apakah jurang perangkap itu sangat mudah bermutasi bentuk sehingga orang tidak mengenalinya lagi sebagai perangkap yang sama? Entahlah…

Mari berpikir positif. Walaupun jatuh ke jurang pasti buntut-buntutnya sakit (atau mungkin mati!) setidak-tidaknya kita pasti mengalami sensasi terjun bebas tanpa hambatan. Banyak yang menyukainya. Seperti bungge jumping!

Karena pemahaman yang baru ini, saya memutuskan untuk berhenti mencari cinta. Selain jatuh dan sakit, jatuh cinta yang bernuansa ketidaksengajaan berarti cinta memang tidak usah dicari. Dia akan tidak sengaja datang seperti saya tidak sengaja lupa mengunci mobil tadi pagi. Ketidaksengajaan bertolak belakang dengan pencarian. Karena “ketidaksengajaan” bernuansa spontan sementara “mencari” bernuansa terstruktur.

Jadi mungkin suatu saat saya cukup sial untuk tertimpa ketidaksengajaan jatuh (ke dalam) cinta. Mungkin saya seperti berjuta-juta orang lainnya akan cukup sial mengalami degradasi bernama cinta, kesakitan karena jatuh, dan merasakan jurang gelap – dingin itu. Dan saya bisa cukup bangga karena saya tetap menjaga harkat cinta sebagai ketidaksengajaan dan tidak dibuat-buat seperti komedi slapstick ;p